Kain Songket: Jejak Emas Peradaban Melayu, Teknik Tenun Pakan Tambahan, hingga Investasi Wastra Bernilai Tinggi
Dhiya Prastika
Author
7 Januari 2026
Published

Jika Batik adalah "tulisan" di atas kain yang menceritakan filosofi kehidupan Jawa, maka Songket adalah "ukiran emas" yang memancarkan kemegahan dan kejayaan peradaban Melayu. Dalam hierarki tekstil tradisional Nusantara, songket menduduki takhta tertinggi dan sering dijuluki sebagai Ratu Segala Kain (The Queen of Fabrics).
Kilau benang emas yang timbul di atas permukaan kain sutra atau katun bukan sekadar hiasan. Ia adalah manifestasi dari kemakmuran, status sosial, dan kepiawaian matematika para penenunnya. Selembar kain songket berkualitas museum bisa memakan waktu pembuatan berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, dengan harga yang bisa menyaingi sebuah mobil.
Namun, di era modern ini, songket menghadapi tantangan ganda: di satu sisi ia dianggap terlalu kaku dan kuno untuk busana sehari-hari, di sisi lain ia dipalsukan secara massal oleh mesin tekstil modern. Banyak konsumen yang tidak bisa membedakan antara songket tenun tangan (handwoven) yang bernilai jutaan dengan songket mesin yang hanya ratusan ribu.
Artikel ini disusun sebagai panduan otoritatif untuk menyelami dunia songket. Kita akan menelusuri sejarahnya dari masa kejayaan Kerajaan Sriwijaya, membedah teknik Supplementary Weft yang rumit, mengklasifikasikan ragam motif dari Palembang hingga Bali, serta menganalisis bagaimana kain ini bisa menjadi aset investasi yang menguntungkan.
Jejak Sejarah: Emas yang Ditenun dari Sriwijaya
Sejarah songket tidak bisa dilepaskan dari sejarah perdagangan maritim di Selat Malaka. Songket lahir dari pertemuan budaya antara penduduk asli Nusantara dengan pedagang Tiongkok yang membawa sutra dan pedagang India serta Arab yang membawa benang emas.
Pusat kelahiran songket diyakini berada di Palembang, Sumatera Selatan, pada masa kejayaan Kerajaan Sriwijaya (abad ke-7 hingga ke-13 Masehi). Sebagai kerajaan maritim yang makmur, Sriwijaya menguasai perdagangan emas. Logam mulia ini tidak hanya dijadikan perhiasan, tetapi juga dipintal menjadi benang super halus untuk ditenun menjadi pakaian raja-raja. Inilah mengapa Palembang hingga kini dikenal sebagai "Bumi Sriwijaya" dan pusat songket dunia.
Secara etimologi, istilah "Songket" berasal dari kata Melayu "Sungkit", yang berarti "mencungkil" atau "menyongsong". Kata ini merujuk pada teknik pembuatannya: penenun harus mencungkil atau mengangkat beberapa helai benang lungsin (vertikal) untuk menyisipkan benang emas (pakan tambahan) secara melintang. Proses mencungkil inilah yang membedakan songket dengan kain tenun biasa.
Dari Palembang, tradisi menenun ini menyebar ke seluruh wilayah kekuasaan Melayu dan sekitarnya, termasuk Minangkabau (Sumatera Barat), Sambas (Kalimantan), Sulawesi, Bali, Lombok, hingga ke Malaysia dan Brunei Darussalam. Masing-masing daerah kemudian mengembangkan ciri khas motif yang disesuaikan dengan alam dan filosofi setempat.
Anatomi dan Teknik: Matematika di Balik Benang Emas
Bagi mata awam, songket hanyalah kain yang berkilau. Namun bagi ahli tekstil, songket adalah keajaiban teknik konstruksi kain. Songket termasuk dalam keluarga Brokat (Brocade), yang dibuat dengan teknik Pakan Tambahan (Supplementary Weft).
Mari kita bedah secara teknis. Dalam tenunan dasar, benang vertikal disebut Lungsin (Warp) dan benang horizontal disebut Pakan (Weft). Mereka bersilangan satu sama lain untuk membentuk struktur dasar kain. Pada songket, ada benang ketiga, yaitu benang emas atau perak, yang disisipkan di antara silangan tersebut. Benang emas ini tidak berfungsi memperkuat struktur kain, melainkan murni sebagai dekorasi. Ia "mengapung" (floating) di atas permukaan kain dasar untuk membentuk motif.
Kesulitannya terletak pada perhitungan. Penenun harus menghafal rumus "cungkil": berapa benang lungsin yang harus diangkat dan berapa yang harus dilewati. Salah satu hitungan saja, motif akan rusak (cacat). Ini membutuhkan konsentrasi tingkat tinggi dan kemampuan matematika spasial. Tidak heran jika penenun songket dianggap sebagai seniman jenius, bukan sekadar buruh.
Kualitas songket juga ditentukan oleh "kepadatan" benang emasnya. Ada istilah Songket Lepus (dari kata Luppus yang berarti habis-habisan), di mana benang emas menutupi hampir seluruh permukaan kain sehingga kain dasarnya tidak terlihat. Ada pula songket Tabur, di mana motif emasnya menyebar seperti bintang dengan latar belakang kain yang dominan.
Klasifikasi Regional: Wajah Songket Nusantara
Meskipun teknik dasarnya sama, songket dari setiap daerah memiliki "DNA" yang unik. Memahami perbedaan ini akan membantu Anda mengidentifikasi asal-usul dan nilai sebuah kain.
Songket Palembang (The Gold Standard): Ini adalah kasta tertinggi. Ciri utamanya adalah kemewahan yang eksplisit. Motifnya rumit, padat, dan sering menggunakan warna dasar merah hati (maroon) atau ungu kemerahan. Benang emas yang digunakan biasanya berkualitas tinggi, memberikan kilau yang elegan dan tidak mudah kusam. Songket Palembang sering menjadi busana pengantin adat (Aesan Gede) yang melambangkan keagungan Sriwijaya.
Songket Minangkabau (Pandai Sikek & Silungkang): Jika Palembang menonjolkan kemewahan, Minangkabau menonjolkan filosofi. Motif songket Minang, seperti Pucuk Rebung (tunas bambu) atau Itik Pulang Petang, sarat dengan ajaran adat Alam Takambang Jadi Guru. Secara fisik, songket Pandai Sikek dikenal dengan tenunannya yang sangat rapat, halus, dan berat. Strukturnya kokoh dan motifnya sangat presisi.
Songket Bali: Berbeda dengan Sumatera yang kental nuansa Islam-Melayu, Songket Bali dipengaruhi oleh Hinduisme. Motifnya sering menggambarkan tokoh pewayangan, naga, atau bunga-bunga teratai. Songket Bali sering menggunakan teknik Endek (ikat) pada kain dasarnya, lalu ditimpa dengan benang emas atau perak. Warna-warnanya cenderung lebih cerah dan kontras. Kain ini adalah perlengkapan wajib bagi kaum Brahmana dan Ksatria dalam upacara keagamaan.
Songket Lombok (Sasak): Dikenal dengan nama Songket Subahnale. Legenda mengatakan, saking rumitnya motif kain ini, penenunnya sering berucap "Subhanallah" (Maha Suci Allah) saat menyelesaikannya. Ciri khasnya adalah motif geometris segi enam atau wajik yang timbul tegas, dengan warna-warna yang berani seperti oranye, hijau, dan perak.
Bahan Baku: Benang Jantung hingga Kristal
Evolusi songket juga terjadi pada bahan bakunya. Di masa lampau, benang emas yang digunakan adalah benang emas murni atau benang sutra yang dilapisi emas asli 14-18 karat. Benang ini disebut Benang Emas Jantung atau Sartin. Songket tua (antique) yang menggunakan benang ini tidak akan pudar kilaunya meskipun berusia ratusan tahun, malah semakin bersinar.
Namun, karena harga emas melambung tinggi, pengrajin modern beralih ke alternatif:
- Benang Kristal: Benang sintetis dari Jepang atau India yang memiliki kilau sangat cemerlang, warna-warni, dan tahan lama. Ini adalah standar songket premium saat ini.
- Benang Tembaga/Plastik: Digunakan untuk songket suvenir murah. Kilaunya terlihat kaku, kasar, dan lama-kelamaan akan menghitam (tarnish) karena oksidasi.
Selain benang hias, bahan dasar kain juga menentukan harga. Songket yang ditenun di atas Sutra Alam akan terasa dingin, jatuh, dan lembut. Sedangkan songket di atas benang Katun akan terasa lebih kaku namun menyerap keringat. Hati-hati dengan songket mesin yang biasanya menggunakan bahan dasar Poliester yang panas.
Analisis Bisnis dan Peluang Ekonomi Kreatif
Songket adalah komoditas dengan nilai ekonomi yang sangat tinggi. Dalam dunia wastra, ia adalah aset investasi. Sebuah songket tulis tangan yang dibeli hari ini seharga 5 juta rupiah, bisa bernilai 10-15 juta rupiah dalam 10 tahun ke depan jika motifnya langka dan kondisinya terawat. Ini membuka peluang bisnis bagi kolektor dan pedagang barang antik.
Di sektor Fashion Modern, tantangan songket adalah teksturnya yang kaku dan berat. Namun, desainer Indonesia telah menemukan cara untuk mengolahnya. Peluang bisnis yang sedang tren meliputi:
- Sepatu dan Tas Pesta: Menggunakan perca songket atau songket yang cacat produksi (reject) untuk melapisi sepatu hak tinggi (heels) dan clutch bag. Produk ini sangat diminati pasar internasional karena eksotismenya.
- Interior Decor: Table runner (taplak meja panjang) dan sarung bantal sofa dari songket memberikan sentuhan etnik mewah pada rumah bergaya minimalis atau kolonial.
- Ready-to-Wear (Modifikasi): Mengombinasikan songket dengan bahan polos (seperti satin atau beludru) untuk membuat blazer atau rok yang lebih ringan dan wearable untuk acara kantor.
Panduan Perawatan Profesional (Wajib Tahu!)
Songket adalah benda pusaka yang "manja". Salah perawatan akan membuat benang emasnya patah atau menghitam. Berikut adalah protokol perawatannya:
1. Jangan Dicuci: Air adalah musuh benang emas (terutama yang berbahan logam). Air dapat menyebabkan korosi dan membuat kain dasar menyusut, sehingga benang emas menjadi kendor (buckling). Jika kotor, cukup di-dry clean (cuci kering) di binatu spesialis yang mengerti wastra.
2. Teknik Penyimpanan: Jangan pernah melipat songket dengan tekanan kuat! Lipatan akan mematahkan benang emas secara permanen. Cara terbaik menyimpan songket adalah dengan digulung. Gunakan paralon atau karton tebal yang dilapisi kertas bebas asam (acid-free paper) atau kain mori putih. Gulung songket dengan lapisan kertas di antaranya.
3. Hindari Kapur Barus (Kamper): Banyak orang salah kaprah menaruh kamper di lemari songket. Bahan kimia pada kamper dapat bereaksi dengan logam pada benang emas, menyebabkannya menghitam. Gunakan pengusir ngengat alami seperti biji lada, cengkeh, atau akar wangi.
4. Angin-anginkan: Keluarkan songket dari lemari minimal setiap 3-6 bulan sekali. Angin-anginkan di tempat teduh (jangan kena matahari langsung) untuk menghilangkan kelembapan yang bisa memicu jamur.
Kesimpulan
Kain Songket adalah bukti nyata bahwa nenek moyang kita memiliki cita rasa seni dan kemampuan teknologi tekstil yang luar biasa. Ia bukan sekadar kain penutup tubuh, melainkan simbol kehormatan, tabungan masa depan, dan identitas budaya yang tak ternilai.
Bagi konsumen, memahami perbedaan antara songket tenun tangan (ATBM) dan mesin adalah kunci untuk menghargai karya seni ini. Membeli songket asli berarti Anda turut menghidupi para penenun perempuan di desa-desa Sumatera dan Bali, menjaga agar suara alat tenun tidak berhenti berdetak. Bagi pelaku bisnis, songket adalah materi dengan narasi kuat yang, jika dikelola dengan hormat dan kreatif, memiliki potensi pasar global yang sangat luas.
Daftar Referensi dan Sumber Bacaan
Artikel ini disusun berdasarkan riset mendalam yang mengacu pada literatur wastra Nusantara, sejarah tekstil Melayu, dan standar konservasi museum. Berikut adalah sumber-sumber otoritatif yang digunakan:
- Achjadi, Judi. (1999). Floating Threads: Indonesian Songket and Related Weavings. Djambatan. (Buku referensi utama mengenai sejarah, teknik supplementary weft, dan persebaran songket di Indonesia).
- Summerfield, Anne & John. (1991). Walk in Splendor: Ceremonial Dress and the Minangkabau. UCLA Fowler Museum of Cultural History. (Studi mendalam mengenai peran songket dalam adat dan budaya Minangkabau).
- Kartiwa, Suwati. (1986). Songket Weaving in Indonesia. Djambatan. (Klasifikasi teknis ragam motif songket dari berbagai daerah).
- Maxwell, Robyn. (2003). Sari to Sarong: Five Hundred Years of Indian and Indonesian Textile Exchange. National Gallery of Australia. (Sejarah pengaruh perdagangan India terhadap penggunaan benang emas di Nusantara).
- Museum Tekstil Jakarta. Panduan Konservasi Tekstil Tradisional. (Protokol standar perawatan kain benang logam dan pencegahan oksidasi).
- Rodgers, S. (1985). Power and Gold: Jewelry from Indonesia, Malaysia, and the Philippines. (Konteks budaya penggunaan emas sebagai simbol status dalam masyarakat adat).


